
Taekwondo, salah satu seni bela diri paling populer di dunia, dikenal dengan tendangan tinggi yang spektakuler dan filosofi disiplin diri. Berasal dari Korea, Taekwondo telah berevolusi dari tradisi kuno menjadi olahraga kompetitif internasional yang diakui oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). Artikel ini akan menelusuri sejarah Taekwondo, mulai dari akarnya di Semenanjung Korea hingga penyebarannya ke seluruh dunia.
Asal-Usul Kuno: Akar Tradisi Korea
Sejarah Taekwondo dapat ditelusuri kembali ke ribuan tahun lalu di Semenanjung Korea. Seni bela diri Korea kuno seperti *Taekkyon* dan *Subak* menjadi fondasi utama. *Taekkyon*, yang dikenal sejak era Kerajaan Goguryeo (37 SM – 668 M), menekankan gerakan kaki yang lincah dan tendangan melingkar, mirip dengan teknik Taekwondo modern. Lukisan mural di makam-makam kuno seperti Makam Gakjeochong menunjukkan prajurit yang melakukan gerakan bela diri, membuktikan bahwa seni ini telah ada sejak abad ke-3 SM.
Pada masa Dinasti Joseon (1392-1910), seni bela diri ini berkembang sebagai bagian dari pelatihan militer. Namun, invasi Jepang pada tahun 1910 mengubah segalanya. Jepang melarang praktik seni bela diri Korea, termasuk Taekkyon, dan memaksakan karate sebagai pengganti. Banyak praktisi Korea diam-diam melestarikan tradisi mereka, sering kali dengan menyamarkannya sebagai latihan fisik.
Masa Pendudukan Jepang dan Kelahiran Taekwondo Modern (1910-1945)
Selama 35 tahun pendudukan Jepang, para ahli bela diri Korea seperti Choi Hong-hi dan Lee Won-kuk belajar karate di Jepang, tetapi mereka mengadaptasinya dengan elemen Korea. Setelah kemerdekaan Korea pada 1945, era baru dimulai. Pada akhir 1940-an, berbagai sekolah atau *kwan* (seperti Chung Do Kwan, Moo Duk Kwan, dan Song Do Kwan) didirikan di Seoul. Setiap kwan mengajarkan gaya bela diri yang mirip karate, tetapi dengan penekanan pada tendangan Korea.
Pada 1952, selama Perang Korea, Presiden Syngman Rhee memerintahkan demonstrasi seni bela diri untuk pasukan militer, yang mempercepat pengembangan. Ini menjadi momen krusial, karena para pemimpin kwan mulai menyatukan upaya mereka untuk menciptakan identitas nasional.
Unifikasi dan Lahirnya Taekwondo (1955-1960-an)
Tahun 1955 menandai tonggak sejarah: Lima kwan utama bersatu dan menamai seni bela diri mereka *Taekwondo*, yang berarti “seni tendangan dan pukulan” (*tae* = tendangan, *kwon* = pukulan, *do* = jalan atau seni). Nama ini dipilih untuk membedakannya dari karate Jepang dan menekankan keunikan Korea.
Pada 1959, Korea Taekwondo Association (KTA) didirikan sebagai badan pengatur nasional. Choi Hong-hi, salah satu tokoh kunci, memainkan peran besar dalam standarisasi teknik, pola (*poomsae*), dan seragam putih yang ikonik. Pada 1966, International Taekwon-Do Federation (ITF) dibentuk oleh Choi di Seoul, dengan fokus pada Taekwondo sebagai seni bela diri non-kompetitif yang menekankan filosofi moral.
Sementara itu, World Taekwondo Federation (WTF, sekarang World Taekwondo atau WT) didirikan pada 1973 oleh KTA untuk mempromosikan Taekwondo sebagai olahraga kompetitif. Perpecahan antara ITF dan WT menciptakan dua aliran utama: ITF lebih tradisional, sementara WT lebih berorientasi olahraga.
Pengakuan Internasional dan Masuk Olimpiade (1970-an – 1980-an)
Penyebaran Taekwondo ke dunia dimulai pada 1960-an melalui misi diplomatik Korea. Pada 1973, WTF menggelar Kejuaraan Dunia Pertama di Seoul, menarik peserta dari 19 negara. Ini menjadi pintu masuk Taekwondo ke panggung global.
Tahun 1980, Taekwondo menjadi olahraga demonstrasi di Olimpiade Moskow, meskipun boikot AS membatasi partisipasi. Pada Olimpiade Seoul 1988, Taekwondo resmi menjadi olahraga demonstrasi, dan akhirnya menjadi medali penuh pada Olimpiade Sydney 2000. Saat ini, Taekwondo adalah salah satu dari lima olahraga bela diri di Olimpiade, dengan lebih dari 200 negara anggota WT.
Pada 1980-an, Taekwondo menyebar ke Barat melalui imigran Korea dan film-film Hollywood seperti *Best of the Best* (1989), yang mempopulerkannya di AS. Di Eropa, klub-klub Taekwondo bermunculan di Jerman dan Inggris, sementara di Asia Tenggara, negara seperti Filipina dan Thailand mengadopsinya sebagai olahraga nasional.
Perkembangan Kontemporer dan Dampak Global (1990-an – Sekarang)
Hari ini, Taekwondo dipraktikkan oleh lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia, menurut WT. Penyebarannya didorong oleh globalisasi, internet, dan program pengembangan seperti Paralimpiade (sejak 2020). Perpecahan ITF-WT telah diselesaikan sebagian, dengan reunifikasi pada 2018 di bawah kepemimpinan Korea Utara untuk ITF.
Taekwondo bukan hanya olahraga; ia juga filosofi yang menekankan lima tenant: kesopanan, integritas, ketekunan, pengendalian diri, dan semangat tak terkalahkan. Atlet terkenal seperti Hadi Saei (Iran, 2 medali emas Olimpiade) dan Servet Tazegül (Turki) menunjukkan keragaman globalnya.
Di Indonesia, Taekwondo diperkenalkan pada 1960-an oleh Pak H. N. Tobing dan kini dikelola oleh Persatuan Taekwondo Seluruh Indonesia (PERSATAI), dengan prestasi di SEA Games dan Olimpiade.
Kesimpulan: Warisan Abadi
Sejarah Taekwondo adalah cerita ketahanan, unifikasi, dan adaptasi. Dari seni bela diri kuno yang hampir punah di bawah penjajahan hingga olahraga Olimpiade yang menyatukan bangsa-bangsa, Taekwondo telah membuktikan daya tarik universalnya. Bagi pemula, memulai Taekwondo berarti tidak hanya belajar teknik, tapi juga membangun karakter. Di era modern, seni ini terus berkembang, siap menghadapi tantangan baru sambil mempertahankan akar Koreanya.
*Referensi: Berdasarkan sumber seperti buku “Taekwondo: The Korean Martial Art” oleh Richard Chun dan situs resmi World Taekwondo (worldtaekwondo.org)
